Homospesifitas Peristiwa Puisi Moh. Syarif Hidayat

Georg Roed seorang remaja menerima surat dari ayahnnya yang sudah meninggal. Surat tersebut ditemukan oleh neneknya dalam kereta bayi dipakai oleh Georg dulu. Dalam surat itu, ayah Georg menceritakan tentang pertemuannya dengan gadis jeruk.

Jan Olav (ayah Georg) seorang dokter. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Jan Olav menulis surat panjang tentang masa mudanya. Terutama ketika ia bertemu gadis yang membawa banyak jeruk di trem.

Gadis jeruk adalah sosok yang misterius, Jan Olav terus memandanginya. Jeruk yang dibawanya hampir tumpah, Jan Olav menolongnya. Namun, justru jeruk-jeruk yang dibawa oleh gadis tersebut berjatuhan. Gadis jeruk marah, ia turun dari trem.

Setelah kejadian itu, Jan Olav tidak bisa melupakan gadis jeruk. Bahkan ia terobsesi untuk kembali bertemu dengan si gadis jeruk.

Georg bertemu kembali dengan ayahnya yang sudah meninggal lewat surat. Ia terus membaca surat tersebut hingga selesai.

Tentang Bunga yang Tumbuh di Pinggir Kolam karya Moh. Syarif Hidayat mengingatkan saya pada buku Gadis Jeruk karya Jostein Gaarder. Memang tidak ada hubungan signifikan antara Moh. Syarif dengan Gaarder. Bahkan mungkin juga tidak membaca karya-karya Jostein Gaarder.

Moh. Syarif Hidayat, lahir di Ciamis, 29 Juli 1976. Karya-karyanya berupa puisi, esai, dan resensi dimuatkan di berbagai media massa Bandung dan Jakarta, seperti di Bandung Pos, Hikmah, Suara Publik, Pikiran Rakyat, Galamedia, Media Pembinaan, Tabloid AKSI, Suara Pembaruan, Republika, dan lain-lain. Ia sekarang bekerja di Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Secara kultur Moh. Syarif dekat dengan bahasa. Apalagi ia seorang peneliti bahasa. Namun kedekatan ia dengan bahasa, tidak lantas mengaplikasikan pada puisi-puisinya. Semisal pemilihan diksi, frasa, hingga gaya bahasa yang digunakan. Moh. Syarif lebih mengutamakan bahasa sederhana.

Puisi-puisi Moh. Syarif sebagian besar adalah puisi persembahan. Terutama untuk para perempuan. Terlepas nama-nama dalam puisi Moh. Syarif fiktif atau kenyataan.

Puisi-puisi persembahan bagi saya cukup riskan untuk dapat dinikmati oleh banyak kalangan. Apalagi tidak tahu tentang konteks pada puisi tersebut. Maka yang muncul autobiografi saja.

(Reformasi) Puisi Moh. Syarif
Di mana posisi Moh. Syarif ketika masa reformasi dan paska reformasi? Saya tidak melihat jejak-jejak reformasi pada puisi Moh. Syarif. Padahal ia menulis ketika pergolakan politik di Indonesia semakin memanas.

Saya menaruh kecurigaan bahwa proses kreatif Moh. Syarif tidak datang dari luar. Maksud saya ia abai terhadap sesuatu yang ada di luar tubuhnya. Ia tidak tertarik dengan hal-hal jauh, apalagi belum dialami. Proses kreatif Moh. Syarif adalah proses kreatif tubuh.

Proses kreatif tubuh, proses di mana tubuh telah bertemu dengan suasana atau peristiwa secara empirik. Tubuh dengan kelima indranya telah bertemu dan merasakan suasana atau peristiwa tersebut. Wawasan yang didapat adalah wawasan personal. Sedangkan wawasan yang di luar tubuh adalah opini. Moh. Syarif sama sekali tidak tertarik dengan opini.

Reformasi bagi Moh. Syarif adalah opini. Oleh karena itu, meski ia menulis di era reformasi, puisi-puisinya tidak meninggalkan jejak tentang reformasi.

Konsep dari puisi Moh. Syarif adalah komunikasi tubuh dengan objek yang ditemuinya. Ia tidak memberikan asersi pada puisi-puisinya, hanya memberikan gambaran atau bentuk pada pikiran para pembaca.

Di Tepi Danau Panjalu

Kenangan yang dilukiskan pohon
Pada hamparan telaga
Mengingatkan pada masa lalu
di telaga ini aku pernah
Mendulang rindu hingga ke dasarnya
Namun diam-diam
angan berlayar menyusuri telaga
Mengelilingi nusa dan pada akhirnya
kembali pada titik pijak yang sama
Saat rindu makin membara

Panjalu, Februari 1998

Atau ketika ia menulis

Suatu Senja di Pantai Losari

Akhirnya kutemukan puisimu di sini, Cep
Teronggok di bawah beton bertulang
Menopang masjid
Dari kedalaman pantai 

Ada yang berbeda dari pandanganmu, Cep
Tentang pasir, ombak, uburubur, dan hutan lindung
Mereka telah berubah mengikuti arah zaman
Meninggalkan kesyahduan
 
Kulihat di senja ini mereka berlalulalang
Memegang kamera dalam genggaman
Sesaat berhenti di deretan tulisan
Mengabadikan perjalanan di rembang petang
 
Cahaya yang terpancar bukan lagi dari alam
Keindahan semu tercipta dari peradaban
Mengubah perilaku orang, dari menghayati menjadi mengebiri

Tak bisa dipungkiri
Di Losari ini bukti dipaparkan
Pembangunan demi pembangunan
Diciptakan untuk mengubah keindahan
Alam yang perawan digagahi demi kemajuan. 

Makassar, Akhir 2015       

Homospesifitas Peristiwa
Pengalaman adalah wawasan aku lirik. Ia mencoba membuat komunikasi melalui homospesifitas peristiwa. Pada puisi “Di Tepi Danau Panjalu”, aku lirik menawarkan peristiwa suasana, begitu pula pada puisi “Suatu Senja di Pantai Losari”.

Homospesifitas peristiwa sendiri adalah beberapa peristiwa yang berbeda makna namun satu esensi. Semisal tempat, atau objek yang sama ditemui, namun berbeda pengalaman yang dialami. Maka esensi dari Danau Panjalu atau pantai Losari akan berbeda makna namun satu esensi yaitu tempat wisata. Moh. Syarif,  begitu pula saya, mungkin juga anda akan mendapatkan makna beragam ketika menemukan objek. Namun peristiwa yang dialami akan berbeda, tetapi esensi dari peristiwa akan sama.

Moh. Syarif menceritakan peristiwa, saya, juga anda menceritakan peristiwa dari pengalaman. Moh. Syarif memiliki cara pandang dalam melihat peristiwa, saya, begitu pula anda. Komunikasi muncul untuk memberi tahu tentang peristiwa yang dialami oleh aku lirik dapat diterima oleh pembaca.

Apabila tidak terjadi komunikasi dua arah, maka peristiwa telah dikorespondensi oleh penyair. Artinya penyair membuat komunikasi tidak dengan lugas dan gamlang. Seperti saya sampaikan di atas puisi-puisi Moh. Syarif hanya memberikan gambaran atau bentuk pada pikiran para pembaca.

Apakah Moh. Syarif itu Georg mendapatkan peristiwa dari yang ditemuinya atau Jan Olav, memberikan peristiwa pada pembaca.

Tentang Bunga yang Tumbuh di Pinggir Kolam yang terdiri dari 70 puisi dan 16 semancam haiku memberikan satu gambaran bagaimana pengalaman dikorespendensikan oleh penyair, memunculkan pengalaman baru.

Apakah pengalaman baru ini dapat dinikmati oleh pembaca? Tergantung dari mana pembaca menikmatinya. Yang jelas buku kumpulan puisi Tentang Bunga yang Tumbuh di Pinggir Kolam terbitan Kaifa Publishing 2016 telah sampai pada pembaca.

Salam.[]

Sumber tulisan: http://www.buruan.co edisi 30 Nopember 2016