Wisata Bahasa: Manajemen Qalbu

Tulisan Wisata Bahasa dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi Minggu, 27 Agustus 2017

MANAJEMEN QALBU

Sarip Hidayat*

 Selepas membaca tulisan Fariz Alniezar dalam rubric Wisata Bahasa pada surat kabar Pikiran Rakyat edisi Minggu, 8/13/2017, saya tergelitik untuk memberi tanggapan atau semacam mendudukkan persoalan pada tempat semestinya. Pertama, persoalan transliterasi dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Kedua, persoalan penggunaan kata di dalam bahasa asal dan bahasa sasaran.  Untuk lebih jelasnya, saya uraikan berikut ini.

Menurut pendapat saya, pedoman transliterasi yang dibuat oleh dua kementerian (Agama dan Pendidikan) sejatinya telah mengakomodasi keadaan penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat penggunanya. Dalam bahasa Indonesia, kata yang ditulis sesuai dengan kata yang diucapkan. Ketika Anda menulis kalbu yang bermakna hati, semestinya tentu akan dibaca [kalbu] juga, bukan [kolbu]. Hal ini berbeda misalnya dengan bahasa Inggris yang ketika kita menulis kata you akan dibaca [yu]. Semestinya hal ini menjadikan bahasa Indonesia mudah untuk dipahami karena memiliki kesejajaran antara penulisan dan pengucapan.

Dalam pedoman lain, yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) telah diatur tatacara penyerapan kata dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ketika kita menggunakan istilah asing yang belum dipadankan ke dalam bahasa Indonesia, penulisan katanya harus dimiringkan (italic). Jika tidak demikian, pembaca akan menganggap bahwa kata tersebut adalah kata dalam bahasa Indonesia.

Qalbu (dibaca [qolbu]) adalah istilah bahasa Arab yang berarti hati. Dalam bahasa Indonesia,  istilah ini kemudian diserap menjadi kalbu (dibaca [kalbu]) dengan arti yang sama. Pemadanan Qalbu menjadi kalbu tentu sudah mempertimbangkan berbagai hal, salah satunya adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai kesejajaran antara penulisan dan pengucapan dalam bahasa Indonesia. Kenapa tidak diserap menjadi kolbu alih-alih kalbu? Saya menduga, hal itu tidak dilakukan karena kata kalbu hanya mengganti satu huruf (q) dibandingkan dengan kolbu yang harus mengganti dua huruf (q dan a). Jadi, penyerapan qalbu menjadi kalbu tentu telah mempertimbangkan beberapa hal tersebut.

Dengan demikian, tidak ada yang salah sebenarnya dalam proses penyerapan tersebut. Hal yang salah adalah ketika pengguna bahasa memakai pola pikir bahasa lain untuk memahami suatu bahasa, baik dalam penulisan maupun pengucapannya. Proses mencampuradukkan penggunaan bahasa (interferensi bahasa) ini kerap terjadi bahkan di kalangan orang terpelajar sekalipun.

Apa yang ada dalam benak Anda ketika seseorang menuliskan frasa berikut ini: Manajemen Qalbu? Bagaimana kalau seperti ini: Manajemen Kalbu, Manajemen Qalbu, atau Manajemen Kalbu. Saya akan jelaskan seperti ini: frasa pertama, Manajemen Qalbu adalah penulisan yang salah. Akan tetapi kesalahannya hanyalah dalam hal tatacara penulisan serapan dalam bahasa Indonesia. Manajemen Kalbu adalah penulisan yang benar sesuai kaidah dalam bahasa Indonesia. Manajemen Qalbu juga adalah penulisan yang benar dalam bahasa Indonesia.  Manajemen Kalbu juga benar secara penulisan. Mana yang salah selain dalam frasa pertama? Manajemen Kalbu adalah penulisan yang kurang tepat secara semantik.  Jika yang dimaksudkan dalam frasa ini adalah tentang upaya untuk mengatur dan mengelola hati, frasa Manajemen Kalbu tentu tidak tepat karena arti kalbu sebagai istilah asing (karena penulisannya dimiringkan) berbeda maknanya.

Jadi, ketika seseorang menuliskan frasa Manajemen Qalbu dan memaknainya sebagai proses pengelolaan atau pengaturan hati, saya masih dapat memahaminya dan tak lupa berdoa agar penulisnya diberikan kesadaran untuk segera mempelajari PUEBI. Akan tetapi, ketika seseorang membaca tulisan Manajemen Kalbu dan menyalahkannya karena pola pikirnya menggunakan bahasa lain (dengan mengartikan kata kalbu dengan arti yang lain), saya menduga mungkin ia perlu Aqua.

Penyerapan qalbu, akal, halakah, dan kunut sebagaimana yang dicontohkan oleh Alniezar menurut saya tidak ada masalah. Proses penyerapan istilah-istilah ini tentu sudah melalui berbagai pertimbangan. Hal yang kurang tepat adalah ketika Alniezar selalu mengartikan kata yang sudah diserap tersebut dalam bahasa asalnya. Karena sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata-kata tersebut harusnya dimaknai oleh bahasa Indonesia, bukan bahasa lain. Tentu saja artinya akan berbeda karena setiap bahasa adalah manasuka. Atos dalam bahasa Sunda saja berbeda dengan atos dalam bahasa Jawa. Tos ah.  

 

*Penulis adalah peneliti di Balai Bahasa Jawa Barat